أسرة الطلبة الأتشيين بالسودان

RSS
KELUARGA MAHASISWA ACEH (KMA) SUDAN Po. Box 12146 Khartoum Sudan 12223 E-mail: kma.sudan@gmail.com Mobile: +249927876016

Selasa, 04 Januari 2011

Mbak.. Mbak..

Oleh: Fahrie Sadah

Mbak.. mbak
Sebuah kafe di Banda Aceh. Ketika sedang ‘celingak-celinguk’ menunggu teman. Seorang pramusaji menghampiri dan bertanya, “Mau pesan apa mas?”
Wajah hitam manis berhidung mancung dan sangat familiar itu saya tatap dalam-dalam. Ia jadi salah tingkah. Wajah ke-Acehan itu sekoyang-koyong menjadi sangat asing di mata saya. Sama halnya saat pertama kali melihat wajah-wajah macan (baca; manis dan cantik) pramusaji di restoran-restoran cepat saji. Atawa wajah-wajah exotis bartender di pub dan nigth club yang ada di Jakarta. Tapi, setelah melirik sandal jepit yang ia kenakan saya jadi terbayang wajah-wajah ayu si penjaga warteg (baca; warung tegal).


Saya kembali teringat masa-masa di Jakarta. Setelah sekian lama tidak pulang, tepatnya setelah enam tahun menjadi kuli kampus disana. Ditambah setahun jadi kuli jalanan. Hari ini saya di Aceh, karena kebelet pingin ketemu orang tua dan sanak saudara. Tuh kan, sampai-sampai kata-kata kebelet ikut keluar!
Namun, seperti masih di Jakarta. Sekali lagi saya pandang wajah itu lekat-lekat, lalu pandangan berpindah keseluruh ruangan, berharap ada satu atau dua perempuan Aceh ‘sebenarnya’ bisa saya temukan. Hasilnya nihil, sama sekali tidak ada. Melihat seorang ibu, eh lebih pantas disebut tante. Dengan pakaian nge-pas dan rokok di bibirnya yang berlipstik tebal, saya merasa seperti sedang berada di diskotik murahan di kawasan hayam wuruk, Jakarta Pusat. "Ah, itu pasti eks NGO", pikiran saya berkecamuk. Kemana perginya perempuan Aceh yang selalu saya kagumi tujuh tahun silam. Perempuan yang lugu, sopan, kemayu, dengan logat Aceh-nya yang menggemaskan dan tentunya tidak pernah menyapa dengan panggilan ‘mas’.
Kali ini mata saya tertuju pada sekelompok anak muda, sekitar tujuh remaja tanggung. Sekelompok muda-mudi. Prilaku ‘cuek’ mereka tunjukkan lewat cara berpakaian, cara berbicara dan bertatap-tatapan, sesekali cekikikan dan serunduk-serundukan. Hati ini miris melihat anak sekolahan seperti mereka masih berkeliaran di cafe malam-malam begini. Casio digital di pergelangan tangan menunjukkan pukul 22.16. Saya melenguh. Setengah bergidik saya teringat wanita-wanita malam yang sering terlihat mangkal di emperan jalan daerah Parung, Bogor. Spontan saya mengusap wajah dengan kedua belah tangan. Si pramusaji ikut mengusap wajah dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya masih memegang daftar menu.
Saya jadi menoleh ke belakang, sekitar tiga-empat abad silam. Saat itu peran perempuan dalam pemerintahan di kerajaan Aceh sangat besar. Hal ini pernah diakui oleh P.J. Veth, seorang profesor di bidang etnologi dan geografi Universitas leiden, Belanda. Pada tahun 1870 Veth menulis sebuah artikel yang berjudul, “Vrouwen Regeringen in den Indesche Archipel” (Pemerintahan Perempuan di Kepulauan Nusantara), artikelnya dimuat dalam majalah Tijdschrift voor Nederlandsch-Indie (TNI). Veth mengakui bahwa tidaklah mudah untuk menemukan figur perempuan yang memerintah di Nusantara. Yang harus digaris bawahi adalah ungkapan Veth selanjutnya, “...Yang paling mengagumkan dari semua contoh pemerintahan perempuan di Nusantara adalah Kerajaan Aceh Sumatera, suatu kerajaan yang mempunyai tempat yang sangat penting dalam sejarah!”
Dalam penelitiannya Veth menemukan adanya kekuasaan kaum perempuan dalam pemerintahan kerajaan Aceh yang berlangsung selama 60 tahun. Kekuasaan pemerintahan yang dilaksanakan oleh empat orang perempuan (ratu atau sultanah) secara berturut-turut dari tahun 1641 hingga tahun 1699 M. Mulai dari Sultanah Tajul Alam Safiatuddin Syah (1641 – 1675 M), Sultanah Nurul Alam Naqiatuddin Syah (1675 – 1678 M), Ratu Inayat Zakiatuddin Syah (1678 – 1688 M), dan Ratu Kamalat Zainatuddin Syah (1688 – 1699 M). Aceh juga pernah melahirkan srikandi pemberani seperti Laksamana Keumalahayati, pejuang tangguh pada masa penjajahan kolonialisme Belanda seperti Pocut Meurah Biheue, Cut Nyak Dhien, Cut Nyak Meutia, Pocut Meurah Intan, Pocut Baren dan masih banyak lagi yang belum tercatat namanya dalam lembaran sejarah.
Sangat kontras dengan putri-putri Aceh yang ada di hadapan saya saat ini. Saya melirik pramusaji itu sebentar, ia tampak bingung, atau mungkin kesal juga melihat sikap saya. Kedua alis matanya bertaut. Pikiran saya kembali berkelana.
Bukan sebuah ‘romantisme sejarah’, tapi kita berharap warisan keagungan peradaban Aceh terdahulu bisa memberikan kontribusi pemikiran dan penyadaran terhadap generasi kini. Sehingga seatu saat, mungkin tidak lama lagi, akan terjadi ‘kelahiran kembali’. Siapapun pemerhati sejarah sejati, layaknya meyakini bahwa ada kekuatan sejarah yang memungkinkan terjadinya ‘kelahiran kembali’ sebuah peradaban. Sebagaimana dilansir oleh Ahmad Suhelmi dari buku Civilization on Trial karya Arnold Tonybee. Tonybee yakin bahwa peradaban barat lahir dari puing-puing kehancuran peradaban Yunani – Romawi. “With disintegratio, kata Tonybee, comes rebirth”. Apa yang disebut dunia barat dewasa ini adalah sempalan dari Imperium Romawi Bizantium. Mengapa terjadi ‘kelahiran kembali’? Tonybee berasumsi bahwa suatu peradaban tak ubahnya seperti makhluk organis; lahir, berkembang, matang dan akhirnya mengalami pembusukan. Maka, dalam sejarah umat manusia ditemukan ‘tengkorak-tengkorak peradaban’ yang terkubur dalam sejarah selama ribuan tahun. Meskipun telah menjadi tengkorak, peradaban tersebut akan melahirkan kembali peradaban baru.
Bagaimana dengan Aceh? Apakah ‘tengkorak-tengkorak’ dari peradaban Aceh yang gemilang sudah lebur dengan tanah atau menjadi debu yang diterbangkan angin, hingga begitu ringkih dan tidak mampu untuk ‘lahir kembali’? Dimana perempuan-perempuan Aceh yang seharusnya menjelma menjadi Ibu yang melahirkan peradaban baru itu? Berbagai pertanyaan berkecamuk di benak saya, kening ini berkerut. Dan kening pramusaji itupun ikut berkerut.
Atau barangkali ‘cobaan’ yang dialami perempuan Aceh selama ini sangat berat, hingga mempengaruhi mental spritual mereka. Kita semua tahu, pada masa DOM, perempuan Aceh dijadikan target operasi militer. Perempuan Aceh menjadi korban pembunuhan, penyiksaan, pemerkosaan dan pelecehan seksual militer Republik dimana Cut Nyak Dhien, Cut Nyak Meutia, Pocut Meurah Intan dan Pocut Baren membangun gerakan sabilillah-nya. Ah, tapi sudahlah. Saya yakin yang saya lihat di kafe ini hanya segelintir saja dari perempuan-perempuan Aceh yang keluar dari kharisma ke-Acehannya. Ber-husnuzhon adalah penawar kegelisahan hati yang sangat mujarab.
Pasti diluar sana. Di beranda-beranda rumah, di mesjid-mesjid, di meunasah-meunasah, di ruang-ruang kelas, di aula-aula kampus, di kantor-kantor pererintahan, di balai-balai desa, di lapangan-lapangan, di barak-barak pengungsian, di kelas-kelas rumah sakit, di jembatan-jembatan, di pasar-pasar, di sawah-sawah, di kali-kali, di bibir pantai hingga warung-warung kopi masih banyak kita temukan srikandi-srikandi Aceh setangguh Malahayati dan seteguh Iman Cut Nyak Dhin. Teringat sikap Cut Nyak Dhien, ketika jari letnan Van Vuuren menyentuh dirinya dalam perebutan senjata. Cut Nyak Dhien berseru, “Jangan kau menyinggung kulitku, kafir! Jangan kau nodai tubuhku!” Sayapun manggut-manggut takjub dalam hati, Sang Pramusaji malah geleng-geleng kepala.
Saya rindu dengan perempuan-perempuan Aceh yang tangguh, cerdas dan teguh imannya. Lembut, santun, namun tetap berkarakter bahasanya. Sopan dan sederhana penampilannya namun tetap elok dipandang mata. Kata-kata Ibu sebelum saya berangkat menuntut ilmu ke Jakarta kembali terngiang, “Nyan bek ka mita peurumoh di jawa! Di Aceh get that jai dara-dara mameh yang sholehah, get iman jih! Hana tandingan!” Sayapun tersenyum, akankah ibu-ibu Aceh saat ini masih berpesan seperti itu pada anaknya yang akan merantau?
“Mas, ditanya kok bengong sih! Senyum-senyum sendiri lagi! Cape deh...” Si pramugari menegur saya dengan bahasa yang ‘dipaksakan’ gaul itu.
Saya kaget campur geli, “Mbak ini Jawa dimananya?”
“Lon ureung Aceh hai Bang!!Peu ie taboh ilee?!” Jawabnya. Kali ini saya tertawa kecil. Walau dialeknya ke-Jawa-Jawaan, ia tetap tidak senang dikatakan bukan orang Aceh. Nah, lho!
Si pramusaji menggigit bibir atasnya pertanda memohon jawaban segera. Saya kembali ‘celengak-celenguk’, teman yang ditunggu tidak kunjung tiba. Saya menoleh si pramusaji,“Bu kari kameng, ie jih kupi weng beh, MBAK....”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima Kasih Atas Komentar Anda

Site Info

Foto saya
Tapeubeudoh Marwah Bangsa..!!

Pengikut

Tapeubeudoh Marwah Bangsa...
PlanetBlog - Komunitas Blog Indonesia
Blog Directory & Search engine
PlanetBlog - Komunitas Blog Indonesia